Mengajak anak berbelanja sepertinya menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan ya, Bunda. Tapi tidak sedikit juga orang tua yang merasa kewalahan ketika buah hatinya mulai rewel bahkan berontak. Di satu sisi mereka merasa sungkan atau tidak enak dengan pengunjung lain, namun di sisi lain orang tua tersebut merasa bingung mencari cara menenangkan anak yang mulai menjadi. Bila Bunda kerap mengalami hal tersebut, di bawah ini ada lima kasus yang paling sering dilakukan anak di pusat perbelanjaan serta cara menghadapinya.

Melemparkan barang pada tumpukan produk display

Jika hal itu terjadi, tentu reaksi semua orang akan sama-sama kaget. Dan sebagai ibu, tentu ada rasa marah serta malu dalam hati Bunda. Namun sebisa mungkin tahanlah untuk tidak mencubit, membelalakkan mata, ataupun menuding-nuding si kecil karena tiga hal ini hanya akan membuatnya makin menjadi. Bunda bisa coba untuk tidak terlalu banyak bicara dan hanya diam mengawasinya saja. Bunda juga bisa mengatakan, “kalau sudah selesai menangis, kamu boleh ke Ibu.” Hal seperti ini secara tak langsung akan mengajari anak bagaimana mengendalikan emosi.

Berlarian di tengan mall yang padat

Nah sepertinya hampir semua orang tua pernah mengalami kasus kedua ini ya. Pasti rasanya sangat kewalahan ketika kita harus mengendalikan anak yang senang berlarian padahal kondisi pusat perbelanjaan sedang sangat ramai. Oleh karena itu, sebelum berangkat ajaklah anak bicara tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya di tempat umum. Katakan juga bahwa dia harus selalu berada di dekat Bunda, serta meminta ijin bila memang ingin melihat sesuatu. Bunda juga bisa memberinya tugas seperti mengambilkan barang belanjaan sembari Bunda mendorong keranjang. Dengan adanya kesibukan itu, maka dia akan lupa untuk berlarian tak tentu arah.

Meminta pulang sesampainya di supermarket

Nah loh, bagaimana bila si kecil langsung mengajak pulang sesampainya di supermarket? Padahal Bunda memang lagi butuh-butuhnya untuk berbelanja. Bila menuruti keinginan si kecil adalah tidak mungkin untuk dilakukan, maka coba ajaklah dia berbicara. Katakana padanya bahwa belanja kali ini tidak akan lama, dan Bunda berjanji akan langsung mengajaknya pulang setelah selesai. Bunda juga boleh kok mengatakan akan membuatkannya jus segar ataupun makanan kesukaan si kecil sesampainya di rumah bila dia mau bersabar.

Memainkan barang pecah belah

Rasanya pasti deg-deg ser ya Bunda saat tau sang buah hati sedang memegang mug atau gelas lucu. Takut-takut pegangannya terlepas, si gelas jatuh, dan Bunda harus mengeluarkan biaya ekstra. Bila anak Bunda kerap melakukan hal itu, coba untuk mengalihkan perhatiannya pada benda lain yang juga tak kalah lucu. Bunda juga bisa membawa mainan kesukaannya saat ke supermarket. Dan saat si kecil mulai menuju bagian barang pecah belah, berikan mainan tersbeut.

Si kecil meminta mainan mahal

Kasus ini mungkin juga akan sangat membuat bingung ya. Di kala kita hanya berniat belanja kebutuhan bulanan, dan kemudian si kecil merengek ingin dibelikan mainan yang harganya bikin kaget. Kalau sudah seperti ini, coba Bunda bawa dia menuju bagian mainan dengan harga miring. Dan tentunya tak kalah keren dengan yang dipilih sebelumnya. Namun jika Bunda belum ingin membelikannya mainan, coba ajarkan padanya bahwa setiap pergi ke toko bukan berarti dia boleh memilih mainan baru.

Lima kasus di atas sepertinya sudah kerap dialami banyak orang tua bila mengajak anaknya berbelanja ya. Memang sih rasanya akan bingung serta sedikit sungkan bila anak kita mulai aktif, merengek, atau heboh sendiri. Namun sekali lagi, coba tenangkan dia dengan taktik yang ciamik ya, bukan dengan mata terbelalak atau cubitan. Dan oh ya jangan lupa membawa pulang camilan lezat Lapis Malang ketika Bunda pergi berbelanja ya. Camilan ini bisa Bunda dapatkan di Jl. Danau Bratan Blok E 1 No. 12 A, Sawojajar, tak jauh dari Universitas Wisnuwardhana dan Velodrome Malang. Selamat berbelanja, Bunda!

 

 

Leave a reply